Tak hanya sektor perekonomian, industri kreatif dan hiburan merasakan kerugian besar dari wabah Covid-19. Selama beberapa minggu, bioskop-bioskop di berbagai kota tutup hingga waktu yang tak ditentukan. Sejumlah penerbit pun tak bisa mencetak dan memasarkan buku untuk sementara waktu karena toko offline sepi pengunjung dan harus ditutup sementara waktu.

Dampak Covid-19 terhadap musikus

Dampak serius dihadapi juga oleh para musikus, terutama mereka yang berencana menggelar tur sepanjang 2020. Beberapa konser dan festival terpaksa diundur, ditunda, dibatalkan, dan dijadwalkan ulang karena adanya anjuran physical distancing. Kerumunan yang tercipta dari kedatangan para penggemar jelas sangat membahayakan karena meningkatkan peluang persebaran penyakit.

Di sisi lain, para musikus dan penyelenggara acara musik merugi. Pasalnya, konser dan festival merupakan salah satu sumber penghasilan yang relatif besar. Ketidakpastian yang muncul akibat belum tersedinya vaksin pun membuat mereka semakin cemas. Mereka tak tahu kapan bisa menyelenggarakan acara tanpa menimbulkan risiko besar.

Walau sempat dilanda kebingungan dan kecemasan selama masa karantina, para musikus akhirnya menemukan solusi dari hadirnya teknologi. Media sosial seperti Instagram dan Youtube dijadikan ‘panggung’ untuk berinteraksi dengan penggemar lewat live atau streaming. Ada pula yang memakai aplikasi atau platform meeting seperti Zoom dan Google Meet.

Potensi konser virtual di tengah pandemi

Perlahan tapi pasti, konser virtual menjadi opsi utama bagi musikus untuk melepas kerinduan dan berbagi materi dengan penggemar. Namun, praktiknya sendiri tak terlepas dari kegagalan. Sebagai contoh, Rave Family Block Fest yang berjanji menampilkan sekitar 85 artis, dari Paris Hilton hingga Gryffin, dengan tiket USD10 sudah bermasalah sejak awal. Sejumlah penonton diketahui tak bisa mengakses ‘panggung’ yang disediakan Minecraft. Pada akhirnya, acara tak bisa dilaksanakan.

Namun, ada beberapa kisah sukses juga yang memeercikkan optimisme. Sebut saja The Genius Live yang dapat diakses secara gratis melalui Instagram, Youtube, Facebook, hingga Twitch. Penggemar yang ingin menikmati pesta eksklusif lewat Zoom diharuskan membayar USD10. Kemudian, ada pula streaming dokumentasi konser dan acara spesial dari BTS pada pertengahan April, sebelum akhirnya mereka menyelenggarakan konser virtual Bangbangcon the Live pada pertengahan Juni 2020.

Kendati terdengar menjanjikan, konser virtual yang mengandalkan teknologi harus dipersiapkan sematang mungkin, baik untuk skala kecil maupun besar. Musikus dan pihak-pihak yang terlibat dalam acara harus mempertimbangkan hal-hal penting berikut ini:

  • Prioritaskan pengalaman eksklusif untuk penggemar

Konser virtual memang memiliki kekurangan, yakni tak bisa mempertemukan langsung musikus dengan penggemar. Namun, sejumlah fitur yang disediakan platform dan media sosial justru dapat menyediakan pengalaman eksklusif yang tak bisa dihadirkan konser biasa.

Sebagai contoh, fitur chat dan komentar bisa dimaksimalkan sebagai alat interaksi. Penggemar bisa meninggalkan kesan dan pesan, sementara musikus membaca dan meresponsnya. Instagram Live bahkan memungkinkan musikus dan penggemar untuk melakukan duet. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang sebaiknya dioptimalkan untuk memberikan impresi terbaik pada konser virtual.

  • Perhatikan porsi pertunjukan dengan interaksi

Menyambung dari poin sebelumnya, porsi antara pertunjukkan dengan interaksi bersama penggemar juga harus direncanakan baik-baik. Jika timpang di salah satu aspek, pertunjukan akan hambar dan membuat penggemar maupun musikus sama-sama kelelahan.

Untuk sesi interaksi, musikus harus memastikan dirinya memberikan engagement seperti shout out atau membacakan beberapa komentar menarik yang masuk. Giveaway dengan hadiah berupa rilisan fisik atau merch pun akan meningkatkan interaksi. Sementara untuk pertunjukan, pastikan alat musik, sistem audio, dan perangkat lainnya terpasang baik serta sampai ke audiensi.

  • Libatkan penggemar dalam kegiatan yang lebih personal

Fenomena streaming melahirkan ikatan baru antara musikus dengan penggemar dalam kegiatan yang lebih personal, salah satunya main gim. Dalam hal ini, Twitch menjadi platform yang berhasil mendekatkan kedua pihak tersebut, bahkan sampai menyelenggarakan donasi.

Jauh sebelum Covid-19 mewabah, Brendon Urie dari Panic! At the Disco secara berkala melakukan streaming di Twitch untuk main gim bersama penggemar atau berbagi kegiatannya sebagai musikus. Interaksi ini semakin sering dijumpai selama pandemi berlangsung, tak terkecuali bagi Mike Shinoda dari Linkin Park yang baru meluncurkan hasil kolaborasinya bersama para penggemar dari Twitch.

  • Jangan lupakan keamanan dan keselamatannya

Tak sedikit penggemar bertindak di luar ekspektasi saat musikus melakukan tur. Misalnya saja menunggu mereka di hotel hingga menginvasi ruang pribadi mereka. Risiko seperti ini masih bisa terjadi di konser virtual, hanya saja bentuknya adalah dalam cyber bullying.

Untuk menekan kemungkinan buruk tersebut, seseorang harus ditugaskan untuk mengawasi kolom chat atau komentar. Jika memungkinkan, saring kata-kata yang dianggap membahayakan dan berpotensi memicu keributan selama konser berlangsung. Musikus bisa juga memberi peringatan di awal supaya pertunjukan berjalan lancar dan nyaman.

  • Susun set list hingga metode promosi yang dipakai

Perlakukan konser virtual selayaknya pertunjukan langsung. Susun lagu-lagu apa saja yang ingin dibawakan kepada penggemar. Tata ruangan atau tempat pertunjukkan digelar dan kenakan pakaian rapi agar audiensi tak kecewa saat menyaksikan, apalagi kalau mereka bayar tiket.

Promosi konser virtual pun bisa dibuat semenarik mungkin. Sebarkan teaser-nya lewat media sosial, lalu lanjutkan dengan membagikan informasi tanggal, tempat, dan waktu. Membangun antusiasme akan membuat penggemar penasaran dan bersiap-siap menyambut musikus. Dengan begitu, baik musikus dan penggemar dapat menikmati acara hingga selesai.

Bagaimana, apa Anda berminat untuk menyelenggarakan konser virtual atau menghadirinya dalam waktu terdekat?